Inspirasi Sehat
Teh Bagi Pengidap Anemia : Bestie atau Musuh?
Fri, 21 Aug 2026Menyeruput secangkir teh hangat setelah makan siang rasanya sudah menjadi ritual wajib yang tidak boleh terlewatkan bagi banyak orang. Sensasi segar dan menenangkan dari teh memang sangat cocok untuk menutup sesi makan. Namun, bagi Anda yang memiliki riwayat kurang darah atau rentan mengalami anemia, kebiasaan ini perlu dicermati kembali secara mendalam karena dampaknya bagi tubuh sangat nyata. Faktanya, masalah kekurangan zat besi merupakan isu global yang memengaruhi sekitar dua miliar orang di dunia.
Berdasarkan sebuah penelitian ilmiah yang dipublikasikan, teh mengandung senyawa polifenol yang sangat kuat. Senyawa ini dapat mengikat zat besi jenis non-heme—yaitu jenis zat besi utama yang berasal dari makanan berbasis tumbuhan atau nabati—dan membentuk kompleks yang tidak larut di dalam usus. Akibat terbentuknya kompleks ini, zat besi menjadi tidak dapat diserap oleh sistem pencernaan tubuh. Penelitian membuktikan bahwa meminum satu cangkir teh saat makan mampu menurunkan penyerapan zat besi sebanyak 49% pada orang dengan kondisi tubuh normal dan mencapai 59% pada penderita anemia defisiensi besi. Jika konsumsinya ditingkatkan menjadi dua cangkir teh, penyerapan zat besi akan merosot lebih tajam hingga 66% pada kondisi normal dan 67% pada penderita anemia. Hambatan penyerapan ini bisa memicu terjadinya anemia fungsional karena tubuh kekurangan bahan baku utama untuk membentuk sel darah merah.
Meskipun demikian, efek hambatan ini bukan berarti Anda harus menjauhi teh selamanya. Efek buruk polifenol teh ini bisa dilawan dengan mengonsumsi zat penambah penyerapan, seperti asam askorbat atau vitamin C. Menambahkan vitamin C ke dalam menu makanan terbukti secara ilmiah mampu mendongkrak penyerapan zat besi hingga 270% bahkan mencapai 350%. Oleh karena itu, bagi Anda yang gemar minum teh, cobalah memberikan jeda waktu antara jam makan utama dan waktu minum teh agar proses penyerapan nutrisi makanan tetap berjalan optimal.
