Inspirasi Sehat

Self Feeding Pangkal Pintar

Tue, 30 Jun 2026

Banyak orang tua yang merasa gemas dan akhirnya menyuapi anak terus-menerus karena tidak tahan melihat meja makan yang berantakan. Padahal, memberikan kesempatan anak untuk memegang sendok dan makan sendiri (self-feeding) adalah salah satu tonggak perkembangan (milestone) yang sangat krusial. Proses ini bukan sekadar urusan perut kenyang, melainkan fondasi bagi kecerdasan kognitif, terutama kemampuan problem-solving dan logika.

Secara medis, belajar makan sendiri melibatkan kemampuan fisik dan kognitif tingkat tinggi. Saat anak mencoba meraup makanan kecil (menggunakan pincer grasp atau jepitan jari) atau mengarahkan sendok ke mulut, mereka sedang melatih koordinasi mata dan tangan secara intens. Koordinasi motorik halus (fine motor) ini adalah syarat utama untuk kemampuan akademis di masa depan, termasuk menulis dan berpikir matematis.

Selain itu, momen self-feeding adalah ajang latihan problem-solving pertama bagi anak. Bayangkan betapa rumitnya bagi seorang batita untuk menakar seberapa banyak tenaga yang dibutuhkan untuk menyendok makanan agar tidak tumpah, dan memperkirakan jarak dari piring ke mulut. Proses uji coba inilah yang merangsang koneksi saraf di otak.

Tahapannya pun bertahap. Di usia 9-12 bulan, anak mulai belajar menjepit makanan kecil. Memasuki 12-18 bulan, mereka mulai bereksperimen memegang sendok pendek dengan gagang membulat, meski masih banyak tumpah. Saat mencapai 2 tahun, kemampuan kontrol mereka sudah jauh lebih baik.

Oleh karena itu, jika anak belum menunjukkan ketertarikan memegang makanan atau kesulitan mengoordinasikan tangan ke mulut sesuai usianya, ada baiknya melakukan skrining perkembangan. Keterlambatan di area ini bisa jadi sinyal adanya masalah pemrosesan sensori atau motorik yang membutuhkan intervensi dini seperti terapi okupasi. Jadi, mulai sekarang, siapkan mental dan biarkan si kecil bereksplorasi dengan makanannya sendiri.

Kembali ke indeks
Customer Service
Layanan Whatsapp
SAPA PRAMITA