Inspirasi Sehat

Picky Eater = Kurang Gizi? 

Sat, 10 Oct 2026

Melihat si kecil memilah-milah isi piring atau menolak sayuran sering kali memicu kekhawatiran besar bagi para orang tua. Banyak yang khawatir bahwa kebiasaan memilih makanan (picky eating) akan langsung berujung pada kondisi kurang gizi atau gangguan pertumbuhan. Namun, benarkah keadaannya seburuk itu? 

Tinjauan ilmiah yang merangkum berbagai studi pada anak usia balita hingga remaja (6 bulan hingga 15 tahun) memberikan sudut pandang yang lebih tenang dan realistis. Hasil data menunjukkan bahwa anak yang tergolong picky eater tidak otomatis mengalami defisiensi nutrisi atau kegagalan pertumbuhan. Sebagian besar anak picky eater ternyata masih mampu memenuhi kebutuhan energi, protein, dan karbohidrat harian mereka dengan cukup baik. Tinggi dan berat badan mereka pun sebagian besar tetap berada dalam rentang normal jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak pilih-pilih makanan. 

Kendati demikian, para ahli mencatat ada beberapa hal yang tetap perlu diperhatikan. Anak-anak yang memiliki kebiasaan memilih makanan cenderung mengonsumsi lebih sedikit sayuran. Selain itu, asupan beberapa mikronutrien penting, seperti zat besi dan seng, memang lebih sering ditemukan berada di bawah jumlah rekomendasi harian. Zat besi dan seng sangat dibutuhkan untuk mendukung daya tahan tubuh serta fungsi kognitif anak. 

Oleh sebab itu, pesan utamanya adalah orang tua tidak perlu panik atau terburu-buru memberikan label dan diagnosis negatif pada si kecil. Menghadapi fase pilih-pilih makanan merupakan bagian umum dari proses tumbuh kembang. Alih-alih merasa stres, langkah terbaik adalah terus menawarkan variasi makanan bergizi secara sabar, mengamati pola makan harian, dan memantau kondisi fisik si kecil secara berkala bersama #sahabatpramita. 

Kembali ke indeks
Customer Service
Layanan Whatsapp
SAPA PRAMITA